Kisah ini berawal ketika Abd' Allah bin Al-Mubarak pergi berperang meninggalkan sahabat sejatinya Al-Fadhil bin Iyadh yang tetap tinggal di Mekah untuk beribadah.
Kepergian Abd' Allah bin Al-Mubarak ke medan perang membuat Al-Fadhil bin Iyadh dilanda kerinduan. Saat beribadah di Masjidil Haram, Al-Fadhil bin Iyadh menangis akibat kerinduan pada sahabatnya lalu ia menulis secarik kertas.
Dalam kertas itu, Al-Fadhil bin Iyadh meminta kepada sahabatnya untuk pulang ke Mekkah untuk beribadah dan berdzikir di Masjidil Haram serta mentadabburi Al-Qur'an bersama-sama.
Abd' Allah bin Al-Mubarak yang mendapati surat itu sampai padanya, lalu ia mengambil selembar kertas untuk membalas surat dari sahabatnya Al-Fadhil bin Iyadh. Isinya adalah berikut :
"Sesungguhnya di antara Hamba Allah ada yang dibukakan untuknya agar berpuasa, lalu ia berpuasa tidak seperti lainnya. Selain itu ada juga yang dibukakan membaca Al-Qur'an, ada yang dibukakan untuknya agar mencari ilmu. Ada yang dibukakan untuk berjihad dan ada pula yang dibukakan untuk bangun malam.
Tetapi, yang engkau jalani saat ini belum tentu lebih baik dari yang aku lakukan, dan apa yang aku jalani saat ini pun belum tentu lebih baik dari apa yang engkau kerjakan. Jadi, kita sama-sama berbuat kebaikan."